Sepatu Dahlan

Miskin bukan berarti pengemis.

Untaian kata yang  tergenang di pikiran ketika mendengar kisah hidup Dahlan Iskan. Seorang Menteri BUMN yang memiliki masa lalu yang sulit. Kelam bukan. Indah pun bukan. Melainkan berharga.

Kisah perjalanan hidup yang sangat menginspirasi para pembaca. Menunjukkan betapa berharganya hidup di tengah kesengsaraan ekonomi yang menyiksa. Mengajarkan untuk terus bertahan melewati detik-detik ujian yang berat

Image result for sepatu dahlan

Berawal dari kehidupan keluarga Dahlan yang berada di Kebon Dalem. Beranggotakeluargakan enam orang, saling menopang untuk menafkahi satu sama lain. Sang ayah yang membanting tulang pagi hingga malam, sang ibu yang membatik setiap harinya, kedua kakak perempuan yang meneruskan emamsipasi wanita, dan Dahlan, Zain yang menyabit.

Meskipun mempunyai berbagai pekerjaan, keluarga ini tidak tergolong kaya. Malahan kerap kali “tersiksa”. Sebutir nasi saja kadang terasa seperti daging. Bahkan tak jarang, mereka memaksakan diri berpuasa. Gaungan perut sudah menjadi hal biasa yang terngiang-ngiang di telinga keluarga ini.

Buku karangan Khrisna Pabichara membuka pikiran saya secara luas. Halaman demi halaman dikemas dengan begitu menarik. Menceritakan butir demi butir kehidupan Dahlan yang tak pernah sedikit pun tidak membuat saya kagum. Sungguh, pengalaman berharga dapat membaca buku ini.

Terlebih ketika menyinggung tentang impian Dahlan akan sepatu. Mungkin bagi kita sekarang ini, sepatu adalah hal yang mudah diraih. Tetapi tidak bagi Dahlan di kala itu. Diperlukan perjuangan dan  waktu yang lama bagi kakinya untuk menyentuh alas kaki nan lembut itu. Tak pernah terbayangkan bagi saya, untuk bekerja sekeras Dahlan demi mendapatkan sepatu.

Membaca buku “Sepatu Dahlan” membuat saya merasa seperti menonton film. Rasa senang dan sedih sungguh terasa. Seperti saya benar-benar mengalaminya. Tak hanya itu, mata saya pun juga terbuka dimana kebahagiaan tidak hanya datang dari orang berkecukupan atau kaya saja. Melainkan dari kaum miskin sekalipun. Dahlan yang hidup dengan tekanan dimana-mana. Tetap dapat bahagia bersama dengan keluarga dan teman sekawannya. Meski hidup serba kekurangan, beliau tetap merasakan kasih sayang yang mendalam dari kedua orangtua. Sama halnya dengan teman sekawannya,  berenang bersama, menyabit bersama, bermain voli bersama, hingga hal kecil sekalipun. Sangat menakjubkan bukan. Bagaimana kebahagiaan terbentuk di tengah-tengah kesusahan dalam hidup.

 

 

 “Kebahagiaan bukan berasal dari materi, melainkan dari hati.”

  • Lilo
Advertisements

2 thoughts on “Sepatu Dahlan

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: